Not to be Forgotten

Kuharap kamu bisa selalu bersikap baik padaku meski menyadari kenyataan bahwa lukisan takdir kita tidak lagi berada dalam satu kanvas yang sama.

Malam tadi kamu mengetuk pintu apartemenku, tepat ketika aku tengah menimbang lebih baik menyayat urat nadi atau lompat dari balkon. Kamu lantas menerobos masuk dan langsung bersitatap dengan tampangku yang sekumal kain pel—hadiah dari malam-malam yang kulewati tanpa tidur. Tak jauh beda denganku, laptop di atas meja juga belum sempat istirahat, layarnya masih menampilkan rancangan desain rumah permintaan salah seorang teman yang tak mengalami kemajuan selama berhari-hari. Pemandangan ini kurasa sudah cukup menjelaskan padamu bahwa aku sedang dilanda badai kekacauan, dan entah bagaimana aku tahu kamu selalu punya cara untuk menyelamatkanku.

Benar saja, beberapa menit kemudian, kita sudah duduk bersisian di dalam mobil yang meluncur pelan menyisir jalanan Surabaya.

“Aku tebak kamu belum makan dan belum tidur gara-gara ngerjain pesenan klien. Terus waktu aku dateng, kamu lagi kepikiran buat bunuh diri, walau aku tahu kamu nggak bakal punya keberanian buat ngelakuin itu—kamu selalu kayak gitu kalo stres. Bener atau betul?” kamu mengawali percakapan dengan sederet kalimat panjang yang bagiku tak hanya menyimpan kejengkelan, melainkan juga percik-percik perhatian.

“Benul,” sahutku seraya mengulum senyum. Sekilas kamu mengerling ke tempatku duduk di sebelahmu, kemudian ikut tersenyum pula.

Diam-diam aku kagum bagaimana kamu bisa muncul tepat tatkala aku butuh bantuan, juga bagaimana kamu masih hafal setiap kebiasaanku biarpun kita sudah tidak bersama lagi sejak lama.

Malam sudah cukup larut saat kamu menyetop laju mobil di depan warung nasi cumi yang akhir-akhir ini sedang sangat kugemari. Kamu melompat turun dari mobil dengan ringan, menciptakan tanda tanya sebesar dunia di kepalaku.

“Kamu nggak bisa makan cumi. We’ve talked about this, haven’t we?” aku menyuarakan keherananku dengan dahi berkerut sembari buru-buru menjajari langkahmu menuju warung.

“Tapi kamu suka.”

“Nanti kamu alergi ….”

“Tapi kamu suka.”

Aku bisa mendengar diriku sendiri menghela napas. “Oke, deh. Terserah kamu.”

Menaikkan pundak, aku memutuskan untuk tidak ambil pusing dan berpikir bisa balas budi dengan membelikanmu martabak keju di lain waktu. Sementara otakku sudah penuh dengan bayang-bayang nasi cumi, mendadak kamu mengerem langkah, serta merta membuatku berhenti juga.

“Balikan, yuk?” kamu berucap sungguh-sungguh dengan menatap lurus ke manik mataku, menguncinya lama sampai aku khawatir jangan-jangan kamu baru akan berhenti memandangku kalau pagi sudah tiba.

Di detik pertama aku disergap rasa kaget—yang sebenarnya tidak perlu karena ini bukan kali pertama kamu mengungkapkan ajakan serupa—tapi di detik selanjutnya aku berhasil menguasai diri dengan oke. “Nggak, ah. Kita kayak gini aja, ya? Mungkin kamu bisa balikan sama mantan kamu yang terakhir, yang dulu langsung kamu pacarin abis mutusin aku tanpa sebab.”

Ada suara derak patah di dalam dadaku ketika aku menutup penolakan itu dengan senyum semanis mungkin di bibir, kuharap kamu tidak mendengar.

Kuharap dengan mengingat bahwa kamu pernah mendepakku keluar dari duniamu, aku bisa selalu punya alasan untuk menolak kamu.

Kuharap kamu selalu bersikap padaku meski menyadari kenyataan bahwa lukisan takdir kita tidak lagi berada dalam satu kanvas yang sama.

notas:

  • hhhh aku nulis apaan sih.
  • we are never ever ever getting back together sih kalo kata taylor swift, ya nggak.
Advertisements

Published by

haebaragi

She tells lies thru her writings.

Let's talk, shall we?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s