Walking Surprise Box

Bagi Tzuyu, Mingyu tidaklah lebih dari pabrik testosteron yang kelewat banyak omong.

//

Belum pernah Tzuyu merasa setolol ini.

Apa sih, yang ada di pikirannya ketika mengiyakan ajakan Mingyu tempo hari? Besar kemungkinan pemuda itu punya kemampuan sihir, atau bisa jadi akal sehat Tzuyu tercecer di matras saat berlatih gerakan pemandu sorak yang baru. Apa pun penyebabnya, yang jelas dia sejuta kali lebih suka menghabiskan Sabtu dengan melahap Gossip Girl sampai tamat ketimbang menanti di halte seperti sekarang.

Permasalahannya ada empat. Pertama, Chou Tzuyu itu kapten pemandu sorak; tak perlulah bertanya seberapa populernya gadis itu. Kedua, dia dibiarkan menunggu. Ketiga, dia menunggu di tempat pemberhentian kendaraan umum. Keempat, yang ditunggu adalah Kim Mingyu.

Bagi Tzuyu, Mingyu tidaklah lebih dari pabrik testosteron yang kelewat banyak omong. Belum genap seminggu dia naik status dari ‘teman sekelas’ menjadi ‘teman semeja’, tapi Tzuyu sudah mengantongi informasi mengenai makanan favorit, nama anjing peliharaan, bahkan merek kaus kaki si pemuda. Kalau bukan karena Guru Park yang suka seenak bulu hidung memindah-mindah tempat duduk para murid, minat Tzuyu untuk berbagi meja dengannya paling-paling hanya sebesar ekor kecebong.

Bukannya Mingyu culun atau gemar melakukan hal aneh seperti mengupil dengan dua jempol sekaligus. Meski tidak tenar-tenar amat, dia supel dan punya selera humor yang lumayan bagus. Namanya bahkan mencuat dua atau tiga kali di obrolan—garis miring acara gosip—beberapa kelompok anak perempuan. Mingyu oke, sebenarnya, tapi belum cukup oke untuk membuat Tzuyu menganggapnya sebagai karib alih-alih gagang sapu.

Benar, Manis, lingkaran pertemanan si cantik itu memang terbatas sekali dan hanya menyediakan tempat untuk para selebriti sekolah saja. Tak butuh kemampuan analisis super untuk tahu bahwa nama Mingyu tidak terdaftar di sana—setidaknya sampai Jumat kemarin.

Sebutlah Mingyu sedang beruntung.

Sejujurnya, dia mengawali konversasi mereka hari itu dengan cara yang agak salah: bertanya apakah Tzuyu bisa menari, yang mana sekaligus mengumumkan pada dunia bahwa Kim Mingyu adalah idiot kelas berat. Yang benar saja, Tzuyu itu pemandu sorak! Jangankan menari, menendang tampang tengil Mingyu sambil bersalto pun dia bisa. Jangan salahkan bila gadis itu lantas menghujani Mingyu dengan tatapan yang barangkali mampu menggores bebatuan saking tajamnya.

Dihadiahi respons sedingin angin Desember, Mingyu mengangkat tangan tanda kalah dan berujar, “Baiklah, Chou, aku percaya kau bisa menari. Dan omong-omong, pandangan berlasermu itu sudah boleh dinonaktifkan.”

“Kenapa kau tanya-tanya segala?” Uh-oh, tanggapan tak menyenangkan lainnya.

“Sesungguhnya aku sedang butuh bantuan dari orang yang bisa menari,” Mingyu memberi penekanan pada kata ‘bisa’ dan melagukannya dengan menyebalkan. “Maksudku menari betulan, bukan hanya menggerakkan badan dengan ritme asal seperti kotoran cicak. Tunggu, kotoran cicak itu benda mati, dia bahkan tak bisa bergerak. Yah, pokoknya begitulah, kau paham, ‘kan? Aku akan girang bukan buatan kalau bantuan itu datangnya dari kawan semejaku yang manis—tentunya bila kau benar-benar bisa menari. Jadi, apakah kau—”

“Kim Mingyu, aku bisa menari dan akan menolongmu, hanya jika kau membungkam mulut besarmu selama satu jam pelajaran.”

“Sepakat. Sampai jumpa besok pagi di halte dekat sekolah, kalau begitu. Jangan lupa persiapkan diri untuk kejutan, Chou.”

Percakapan usai. Kemenangan di pihak Kim Mingyu.

Dia bahkan tidak memerinci pertolongan seperti apa yang harus Tzuyu lakukan, sialan betul. Bagaimana jika ternyata Tzuyu disuruh menari perut di tepi jalanan Hongdae demi membiayai perawatan anjingnya? Demi Tuhan, bila si berengsek itu tidak muncul sampai sepuluh detik ke depan, Tzuyu bersumpah akan—

“Chou, sudah menunggu lama? Maaf, tadi aku kesiangan.”

—akan … akan apa?

Tzuyu lupa apa yang akan dilakukannya, sebab sosok yang baru hadir ini begitu menghipnotis.

Gadis itu hampir tak pernah menyusun rencana pertemuan dengan teman sekelasnya di luar urusan sekolah, kecuali dengan Dahyun serta segelintir anggota pemandu sorak yang kebetulan berada di kelas yang sama dengannya. Melihat Mingyu dalam celana jins dan jaket berbahan serupa alih-alih seragam adalah pengalaman baru buatnya—pengalaman yang ternyata mengirim perintah pada jantung dan saluran napasnya untuk kompak lupa cara bekerja secara benar.

Bukankah mestinya Tzuyu mengamuk karena Mingyu kesiangan? Kenapa perkataan yang terlampau jujur itu justru membuat sang putri Chou gemas dan diterjang keinginan tak rasional untuk mengacak surai legam sosok menjulang di hadapannya?

Mengumpulkan sisa logika, pertahanan, serta image murid kelas atas yang mungkin tinggal sejumput, Tzuyu berdeham dan memilih berkomentar tentang kamera yang mengalungi leher Mingyu. “Dimaafkan. Kau bisa memotret?”

Spontan pemuda itu mengangkat kameranya. “Sedikit. Aku ‘kan anggota klub fotografi.”

Ah, klub fotografi. Tzuyu agak membongkar ruang ingatannya, mencari-cari apakah Mingyu pernah membahas sesuatu yang berkaitan dengan klub itu, tapi dia tak menemukan apa-apa. Yah, begitulah kalau kau jadi Chou Tzuyu yang tak pernah menaruh ketertarikan terhadap apapun yang terjadi di sekolah selain yang melibatkan dirinya dan kegiatan pemandu sorak.

“Jadi, berangkat sekarang, Chou?”

Tzuyu kira itu pertanyaan, tapi Mingyu sudah menangkup pergelangan tangannya bahkan sebelum ada jawaban yang mengudara. Si jangkung itu menggandeng Tzuyu—beserta segenap gelitik asing di perutnya—menjauhi halte, lalu tiba-tiba saja keduanya sudah melangkah bersisian di trotoar. Mingyu membuat semuanya terasa wajar sampai-sampai Tzuyu tidak sempat merasa geram.

“Chou,” Mingyu akhirnya buka suara ketika Tzuyu nyaris yakin perjalanan ini hanya akan diisi oleh bunyi tapak sepatu beradu dengan paving block, embusan angin yang mulai terasa panas, dan sesekali deru mesin kendaraan, “kau tidak penasaran kita hendak ke mana? Memangnya kau tidak takut kuapa-apakan?”

“Kurasa aku yang bakal mengapa-apakan dirimu duluan.”

“Ah, menarik.” Kendati pandangan Tzuyu terarah lurus ke depan dan tidak sedang menelusuri ekspresi Mingyu, dia tahu temannya itu sedang menampilkan senyum menantang yang juga terlihat jenaka. “Baiklah, kita lihat saja nanti.”

Tak ada yang mau repot-repot mencari topik perbincangan lagi setelah itu, entah berapa jenak terlewat sudah. Satu-satunya penanda bahwa Mingyu masih berjalan di samping Tzuyu adalah punggung tangan mereka yang beberapa kali berbenturan tanpa sengaja. Ah, diam-diam gadis itu merindukan kawan semejanya yang berisik.

Apakah Chou Tzuyu barusan bilang sesuatu tentang ‘rindu’? Lupakan saja, sungguh. Dia harus lekas membuat janji temu dengan dokter jiwa, stok kewarasannya pasti sebentar lagi habis.

Tapi untuk saat ini, sepertinya ada yang lebih penting daripada menimbang-nimbang dokter mana yang kelihatannya oke, yaitu: merasa khawatir lantaran Mingyu tahu-tahu berbelok ke gang yang tidak berteman baik dengan sinar matahari, hanya punya ruang untuk dua atau tiga orang dewasa pula. Belum ada pertanda dia bakal menyetop laju tungkai panjangnya, sementara Tzuyu tak punya pilihan selain bertansformasi menjadi Buntut Mingyu.

Lorong yang panjangnya sekitar 50 meter itu rupanya berujung ke sebuah pemukiman—walau Tzuyu ragu apakah bangunan-bangunan setengah jadi ini layak dijadikan tempat bermukim. Beberapa di antaranya malah tidak bisa disebut ‘bangunan’ karena hanya tersusun dari kayu lapis atau kardus. Anak perempuan itu menelan ludah. Sebagian orang memang berkubang dalam kehidupan yang seratus persen berkebalikan dengan miliknya—Tzuyu tahu itu, dia tidak naif. Hanya saja, dia tak pernah memperkirakan bakal dapat giliran untuk menengok kehidupan tak enak tersebut secara langsung, terlebih bersama orang yang dia pikir akan selamanya menjadi teman-sebatas-tahu-nama.

Mingyu tampak mengenal daerah ini seolah dialah yang mendirikan. Pemuda itu membawa Tzuyu melewati banyak belokan yang semuanya terlihat sama, berbasa-basi dengan beberapa orang (selamat pagi, Bu. Iya, hari ini saya bawa teman. Ibu mau difoto?), sebelum akhirnya berhenti di pelataran salah satu gedung yang pembangunannya belum tuntas dan sepertinya tak bakal dituntaskan sampai kiamat tiba.

“Kim Mingyu, semua ini makin tak jelas saja.”

“Akan jelas kalau kita ke dalam. Ayo.”

Tzuyu benci bagaimana Mingyu lagi-lagi menggenggam tangannya dengan kasual seperti sudah melakukannya sejuta kali. Tzuyu benci karena dirinya membiarkan Mingyu berlaku demikian. Tzuyu benci ketika ada yang menerobos dan mengobrak-abrik pertahanannya, apalagi jika orangnya adalah Kim Mingyu.

Laki-laki itu seperti kotak kejutan berjalan yang isinya tak bisa ludes, dan agaknya pemandangan yang sekarang tersaji di depan Tzuyu ini adalah salah satu isi kotak yang paling tak tertebak.

Bangunan terbengkalai yang mereka masuki rupanya semacam … SD darurat. Ada perabot standar ruang kelas seperti papan tulis dan perangkat meja-kursi, serta tentunya sejumlah anak murid, karena sekolah bukanlah sekolah tanpa bocah-bocah yang mencerocos entah meributkan apa.

“Mereka semua tidak sekolah. Ada yang berhenti di tengah-tengah, ada pula yang tidak pernah sama sekali. Usia mereka … berapa ya? Aku tidak pernah bertanya. Mungkin sekitar tujuh sampai sepuluh tahun. ‘Sekolah’ ini sepupuku yang mendirikan. Awalnya memang tidak disetujui warga, malah dia dituduh sedang mengumpulkan tumbal untuk sekte sesat. Tapi sekarang semua sudah oke. Aku jadi pengajar di sini setiap Sabtu pagi, atau kapan saja aku punya waktu luang.”

Mendadak sesuatu yang hangat menelusup ke perasaan Tzuyu.

Tidak ada dari anak-anak itu yang mengenakan seragam dan sepatu, tapi mereka terlihat sangat tidak sabar untuk mulai belajar. Saat terdengar derap langkah dari arah pintu, mereka serentak menyudahi kegiatan apa saja yang tengah dilakukan demi menyongsong pemilik derap langkah tersebut—Mingyu dan Tzuyu. Gadis itu terperangkap dalam takjub menatap makhluk-makhluk kecil ini mengerumuni Mingyu seakan dia adalah Dewa Tukang Bagi-Bagi Tteokbokki atau sejenisnya.

“Kak Mingyu, ini teman perempuan yang sering Kakak ceritakan itu, ya?” tanya seorang anak berkuncir dua seraya mengamati Tzuyu dengan binar di manik arangnya.

Kerut tak kentara terukir di kening Tzuyu. Memangnya apa yang bisa diceritakan Mingyu tentangnya? Mereka bahkan tidak pernah betul-betul berdialog, baik sebagai teman sekelas maupun teman semeja karena Mingyu-lah yang selalu mengoceh macam-macam dan Tzuyu tidak merasa perlu menanggapi dengan layak.

Tapi nyatanya, pertanyaan itu membuat Mingyu mengusap tengkuk. Itu adalah gestur khasnya ketika sedang salah tingkah, dan sepertinya akan jadi gestur favorit Tzuyu. “Eh … um … Kenalkan, ini Kak Tzuyu. Dia dari Cina dan akan mengajari kalian menari.”

“Kakak bisa menari? Keren sekali! Kak Mingyu bisanya cuma memotret dan mengajari kami berhitung!”

“Kak Tzuyu, bahasa Cinanya ‘selamat pagi’ apa?”

“Kakak pacarnya Kak Mingyu?”

“Whoa, beruntung sekali Kak Mingyu punya pacar secantik Kakak!”

“Kak Mingyu pernah bilang, katanya kapten chieo-lideo di sekolahnya seperti bidadari. Ternyata dia tidak bohong!”

Sementara Mingyu sibuk mengomando mulut-mulut kecil itu untuk diam, Tzuyu susah payah menyembunyikan rona merah muda sialan yang dengan kurang ajar menjajah pipinya di waktu yang salah.

“Tidak, Raebin, kami tidak pacaran. Atau belum. Eh … maksudku, bagaimana anak sekecil kalian bisa dengan fasih mengatakan sesuatu tentang ‘pacar’, sih? Apa kalian mendapatkannya dari TV? Dan Myungjae, pelafalan yang benar itu cheer­-lea-der. Minggu depan kita belajar bahasa Inggris, ya. Hari ini belajar menari dulu dengan Kak Tzuyu. Siapa yang bersemangat?”

Tzuyu tidak bisa lebih bahagia lagi melihat puluhan tangan mungil teracung tinggi di depannya dan mendengar teriakan “AKUUU!” saling bersahutan. Lebih bahagia daripada memenangkan kejuaraan pemandu sorak tingkat nasional bersama timnya. Lebih bahagia daripada menyandang titel kapten. Baru kali ini dia benar-benar  mengerjakan sesuatu untuk orang lain—untuk Mingyu serta segerombol liliput menggemaskan yang bahkan tak dikenalnya—dan sama sekali tak merasa keberatan.

Sebelum bergerak ke bagian ruangan yang cukup luas untuk mendemonstrasikan beberapa gerakan tarian dan akrobat yang dirasanya mudah diikuti anak-anak, dia merapatkan bibirnya ke telinga Mingyu dan berbisik, “Kau berutang segelas green tea latte padaku setelah ini.”

Latte dan Chou Tzuyu, adakah penawaran yang lebih mantap daripada ini?

Mingyu, sih, menganggap ini ajakan kencan. Bagaimana menurut kalian?

/fin

//


notas:

  • draft bulan februari buset bisa kelar juga ternyata.
  • aku bukan penggemar twice dan bahkan ga hapal member-membernya. jarang nulis pake pairing idol x idol juga, tapi mereka berdua ini gemesin yaaaa huhu who’s on my side?
  • HAVE BEEN MISSING YOU GUYS SO MUCH HUHUHU sepi banget, orang-orang pada ke mana 😦
  • don’t hesitate to simply say hi to me ehe ehe i won’t bite ❤
Advertisements

Published by

haebaragi

She tells lies thru her writings.

4 thoughts on “Walking Surprise Box”

  1. Ah, how could I say no to this lovely story. Suka banget sama slice of life-nya, suka bahwa Tzuyu nggak gampang terhanyut sama mingyu, suka sama sisi lain mingyu.
    Btw, aku sempet browsing soal sekolah Korea dan katanya dari SD-SMP itu sekolahnya dibiayai pemerintah. Kalo ga salah, sih. Tapi coba cek lagi aja.
    Btw lagiii … aku juga belakangan ini nulis ff pake pairing idol x idol, nad, lagi ga pengen nyari nama OC soalnya, jadi bukan berarti aku ngeship si A dan B, cuma emang kadang nyari yang usianya ga terlalu berjauhan.
    Nad, thankyou for writing this lovely story. Really love it, dan aku suka gaya tulisannya Nadya yang sederhana tapi kena sasaran.

    Like

    1. KAK ECI ASFDTHZNWGE I’M SO HAPPY TO SEE YOU HERE AND I HAVE NO IDEA HOW TO EXPRESS MY GRATITUDE PROPERLY :” ah iyaaa, aku emang risetnya ga in depth sih waktu itu, my bad. aku cuma nyari di korea itu ada daerah kumuh atau engga, dan ternyata ada. terus aku berasumsi kalo anak-anak di lingkungan kayak gitu biasanya ga punya biaya buat sekolah, just like here di negara kita. aku barusan nyari lagi dan kak eci bener kak, di sana sekolahnya dibiayain sampe smp, hehehe. thank youuuu kak eci for the info, i appreciate it so much huw :” ❤

      aku sejarang itu kak nulisin idol x idol, soalnya pengetahuanku soal anak-anak girlband tuh minim banget. jadiiii sekalinya aku pasangin 2 idol, itu berarti aku beneran suka sama dua-duanya dan ngeship mereka HAHAHA. itu juga jarang buangettt sih. dan lagi akhir-akhir ini aku lagi ga begitu sering bikin fanfic.

      yang harusnya bilang makasih banyak tuh aku kaaak ya ampun :" thanks for kindly following this blog tooooo i'm so honoredddd :"""" (sends a ton of love to wherever kak eci is right now)

      Like

  2. Visual couple ini bukan otp semua tapi damn. Cerita ini manis dan tokohnya sgt in Chara ;-; *which Made Kim ming even more perfect kzl
    Adem anget bacanya sukak. Diksinya sederhana tapi gak ngebosenin, keren! Keep writing!

    Like

    1. kak lianaaa you’re here ^^ btw ini nadya kak, in case kak liana lupa gara-gara aku ganti pen name, hehe. waaaa mereka malah salah satu dari sedikit pairing favoritkuuu karenaaaa mingyu berisik banget tapi gentle dan tzuyunya ice princess gitu jadi menurutku lucu ajaa, biarpun too perfect to be true sih huft 😦

      aku pikir ga bakal ada yang baca dan komen 😦 makasih kak lianaaaa, semoga kakak beneran sukaa ❤ ❤ (hugs)

      Liked by 1 person

Let's talk, shall we?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s