Serendipity in Him

The featured image is taken from Tumblr

Serendipity in Him (c) nadseu

x

Bertanya-tanya kenapa aku memilih si menyebalkan ini jadi kekasih? Ya, sama, aku juga.

x

Lelaki yang duduk mengemudi di sebelahku ini tampak tenang—terlampau tenang untuk ukuran kekasih yang telat menjemput satu jam. Jenis ketenangan yang menyebalkan; membuatku ingin menandak-nandak tak keruan di jok mobil dan menjambaki rambut merah mudanya. Rambut itu memang membuatnya terlihat seperti kue mochi raksasa dengan kemoceng di atasnya, tapi kau tak perlu cemas kalau aku bakal jantungan. Dia sudah pernah tampil dengan warna-warna lain yang tidak kalah mengerikan—pirang, abu-abu, merah, bahkan oranye—jadi perkara itu tak lagi menggangguku.

Aku memasukkan oksigen banyak-banyak ke saluran napas sembari melempar benak ke pukul tujuh pagi tadi.

x

Bahan-bahan untuk meracik nasi goreng kimchi sudah lengkap di meja dapur saat ponsel di dekat tanganku menjerit-jeritkan nada dering dengan heboh. Sepintas kulirik nama yang terpajang di layar, lantas spasi di antara kedua alisku mengerut heran. Park Jimin lagi? Kami telah bertukar hal semacam halo-sweety-bagaimana-pagimu-apakah-semalam-kau-tidur-nyenyak setengah jam yang lalu ketika sama-sama baru bangun, jadi sekarang apa?

“Hei, kau hendak sarapan? Sebaiknya jangan dulu, Diana. Ada restoran baru di Hongdae yang harus aku liput; temani aku makan di sana. Kujemput pukul sembilan. Sampai ketemu, Darl.”

Jimin bahkan tidak bertanya apakah aku mau atau tidak, berengsek.

Tapi tentu saja aku mau.

Sebagai jurnalis yang mengisi rubrik ulasan makanan di salah satu majalah lokal, Jimin hobi keluar-masuk restoran, kafe, atau sekadar menjajal kudapan pinggir jalan. Kantornya mengadakan anggaran khusus untuk itu di luar gaji yang tiap bulan diterimanya. Menyenangkan? Sangat. Memang sempat bikin iri, tapi lalu aku sadar kalau kemampuan menulis dan memotretku tak sehebat Jimin. (Aku tidak mengada-ada, Jimin bisa menjepret hidangan dan mendeskripsikannya sedemikian rupa hingga tampak begitu menggiurkan). Lagi pula, dia selalu mengajak serta diriku bila aku sedang tidak mengajar dan tidak punya segunung tugas murid yang harus diperiksa.

Hari ini, misalnya.

Oke, menunda makan pagi sampai pukul sembilan kedengarannya tidak buruk-buruk amat. Asal hanya sampai pukul sembilan. Jika diulur lagi, pastilah aku akan menjelma serupa gorila kelaparan dan memusnahkan semua makhluk hidup di sekitarku.

Jimin, bodohnya, mengambil risiko kumusnahkan dengan muncul di pintu apartemenku pukul sepuluh lewat beberapa menit. Keberengsekan Park Jimin memang berada di level yang berbeda dari manusia kebanyakan, harap catat.

Kalau dia menampilkan raut penuh rasa bersalah, mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk batal mengumpankannya pada kawanan hiu di Samudera Pasifik. Nyatanya, Jimin cuma melontarkan permohonan maaf sederhana seraya nyengir lebar. Hasratku untuk membuangnya ke laut pun makin menjadi-jadi.

“Cepat, Diana, nanti kita tidak dapat tempat duduk.”

Bertanya-tanya kenapa aku memilih si menyebalkan ini jadi kekasih? Ya, sama, aku juga.

x

“Kita sampai.”

Perkataan Jimin memutus lamunanku. Aku refleks melempar pandang ke luar mobil, lantas bersiul kagum begitu melihat calon tempat makan kami. Bangunan itu memiliki dinding dari batu bata, huruf-huruf besar dengan font meliuk indah yang menunjukkan nama restoran, serta banyak jendela lebar bertirai tipis dan sepasang pintu kaca yang lumayan memperlihatkan bagian dalam. Telah banyak meja yang terisi meski sekarang masih terlalu pagi untuk makan siang dan sudah terlalu siang untuk makan pagi. Jelas ini bukan restoran sembarangan.

“Jimin, kau yang bayar, bukan?” tanyaku sambil melepas sabuk pengaman.

Tawa renyah Jimin menyatu dengan udara. “Kantorku yang bayar.”

Laki-laki itu kemudian turun dari mobil dan membukakan pintu penumpang untukku. Sesaat aku tersentak, seakan baru sadar kalau tindakan itu sebenarnya sangat mengesankan. Padahal ini bukan pertama kalinya Jimin berbuat demikian. Bila kami hendak masuk atau keluar ruangan, Jimin-lah yang membuka pintu dan membiarkanku lewat duluan. Dia juga selalu menunjukkan perilaku melindungi dengan berjalan di sisi yang dekat dengan jalan raya setiap kami melangkah berdampingan di trotoar. Mungkin Jimin sendiri tidak menyadarinya karena sudah terbiasa berlaku begitu.

Untung aku cepat pulih dari keterpanaan anehku. Lekas kami beriringan masuk ke restoran, lalu lagi-lagi dibuat terpukau. Tempat ini tak hanya kelihatan mewah dengan cara yang elegan, tapi juga terasa nyaman dan sangat “rumah”. Pengondisi udaranya disetel dengan baik di musim panas seperti sekarang. Aku nyaris memekik senang mendapati vas mini berisi bunga matahari segar—favoritku!—di setiap meja.

Setelah kami menempati salah satu dari sedikit bangku yang tersisa—letaknya di dekat jendela—tatapku mengembara ke seluruh ruangan. Pakaianku dan Jimin tampak tak pantas bila dibandingkan dengan tamu-tamu lain, bahkan lebih hina daripada seragam pelayan yang rapi dan keren. Aku mengenakan kaus lengan pendek warna putih yang kupadukan dengan rok selutut bermotif kotak-kotak biru dan hijau, juga bot cokelat sebatas mata kaki. Tidak kalah seadanya denganku, Jimin memilih kaus lengan panjang bergaris hitam-putih, jins biru, dan Vans butut yang juga berwarna biru. Fujifilm X-A3 menggantung di lehernya. Omong-omong, meski sepatunya butut, benda itu tidak mengeluarkan bau yang bikin klenger seperti milik Hoseok, kok.

Sambil menghalau pikiran mengenai alas kaki Hoseok dari kepalaku, aku memandangi Jimin. Dia tengah berbicara dengan seorang pelayan; memesan untuk kami berdua dan minta izin mengulas santapan di restoran ini untuk majalahnya. Kulihat dia mengambil dompet di kantong jinsnya dan menarik kartu pers dari salah satu slot. Bahasa tubuhnya santai dan terkendali. Bisa saja pihak restoran tidak bersedia diliput, tapi cara Jimin bicara sungguh meyakinkan—dalam artian baik.

Mengamati Jimin begini membuatku berpikir, benarkah aku masih bertanya-tanya kenapa aku memilih si menyebalkan ini jadi kekasih? Barangkali tidak. Barangkali aku sudah tahu jawabannya. Bukan karena dia selalu membukakan pintu untukku atau mengambil posisi melindungi ketika kami jalan berdua. Bukan pula karena siluman kue mochi itu adalah jurnalis berbakat yang bekerja di media terkemuka. Tapi karena dia adalah Park Jimin, dan itu sudah cukup buatku.

kkeut.

x


notas:

  • pas lagi ngebeta baru sadar kayaknya lebih cocok kalo tokohnya suga??? tapi ya udahlah ya, kan aku senengnya sama jimin 🙂 🙂 (apaan nad)
  • spring. day. enak. banget. lagunya. ga. ngerti. lagi.
Advertisements

Published by

haebaragi

Every writer is a liar, so am I.

4 thoughts on “Serendipity in Him”

  1. That ‘siluman kue mochi’ tho. Hi, Nad! Is it my first time visiting your blog or am I just such a late-blogwalker because I’ve just realized that this piece is so good??? Yes, it is. AND … uhm .. WHY IS JIMIN SO PRINCE, AGAIN??? WHY??? WHY??? Dia keren banget di sini huhuhu mau mau mau, mau pekerjaan sebagai food-reviewernya (lah)
    Keep writing, Nad!

    Like

    1. HUEHEHEHE halo kak eciiiii kuingin pelukkk ❤ ❤ ❤ kakak bikin aku maluuu karena sebenernya aku ga pede sama fic ini 😦 terusss aku emang tertarik sama dunia jurnalistik sih kaaak hehe soalnya kerjaannya tuh seru-seruuu! food journalist ini salah satunya. asik banget ya kayanya kak jalan-jalan sama makan dibayarin kantor 😦

      i couldn't be any happier to see you here kaakkk! kak eci keep writing jugaaa ❤

      Like

  2. OH. MY. GOD. OKE FIKA CALM DOWN.

    sek pertama aku mau ngomenin nama menunya kamu nad hehe, lucu ih. blogas, profilas, indexas hehehe. imut gituu. (maafin kalo geje fikanya huft). terus mau ngeiyain notes terakhir IYA EMANG SPRING DAY ENAK BANGET AKU BELOM BISA MUVON SAMPE SEKARANG GIMANA DONG!! dah sekarang ke cerita hahahaha entar aku ditendang keluar blog gara-gara fangirlingan xD

    TERUS AKU BAYANGIN JIMIN PASANG SENYUM 5 GIGAWATT NGOMONG KE MBA-MBA RESTORANNYA DONG HUHU. jahat :(( iyasih kalo masalah smooth-talker mah emang forte-nya yoongi tapi jimin klop juga kok. untung jimin. huhu. aku pun masih belom bisa muvon dari pinkeu pinkeu di kepala jimin astaga literally mochi dia mah. (mochi tapi pas dance break not today dia di depan dan fika sibuk mengeluarkan kata-kata kasar huft, jim, HUFT).

    tapi aku suka ih nad yang bagian deskrip: jimin bukain pintu, jimin jalannya di pinggir yang deket jalan raya. jimin yang suka ngulas makanan AAAAAA SUMPAH. pokoknya little things kaya gitu yang bisa bikin tambah ngefluff deh nad huhu sukaaaa. (terus gabisa ga ngakak pas hoseok muncul segelintir tapi yang diomongin adalah sepatunya hahahaha) xD

    suka ihhhhh yaampun. keep writing ya naaad 😀

    Like

    1. welcuuuum here kak fikaaa, betah-betah yaaa kak 😀 ya ampuunn kak fika merhatiin aja sih nama menunya hahaha itu terinspirasi dari blogger lain kak sebenernyaaa. ahhh aku juga ga tau udah dengerin spring day berapa kali sejak rilis huhu, suka banget sih parahhh padahal sekarang udah jarang dengerin lagu korea.

      aku lumayan lama ga nulis fanfic kan kak, terus tiba-tiba pengen nulis jimin, apa pun yang terjadi pokoke kudu jimin. mungkin karena ituu jadinya karakternya rada ga pas di diaaa. syukur deh kalo kata kak fika masih klop fufufu. dulu jimin so squishy dan jauh lebih mochiiiiii, sekarang mah udah kurusan banget ah sedih, he must be working so hard :((

      iyaaa kak, cowok yang gentlenya spontan dan ga dibuat-buat itu emang nyenengin bangeeett hehehe.

      sebenernya aku malu loh kak fika baca ini, masih banyak banget yang kurang here and there :” tapi makasih banget banget banget yaaa kak, you’re the kindest deh emang ❤ ❤ ❤

      Like

Let's talk, shall we?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s