Crestfallen

Featured image © James Chororos

Crestfallen © nadseu

//

“Everything will fall down in the end.” — Adhitia Sofyan

//

Desember menjemput. Gumpalan kelabu yang bersinggasana di angkasa belum letih mencurahkan hujan ke bumi, mentari tak juga berselera memamerkan raut pada semesta. Embusan angin terasa begitu dingin menampar persendian—terlalu dingin bagi Semarang. Hampir semua pengguna trotoar berbalut pakaian tebal serta menggenggam payung; kaki dilajukan lekas-lekas agar dapat segera tiba di tujuan masing-masing.

Hampir semua, karena ada satu yang tidak.

Ia seorang pemuda, langkahnya lunglai dan tubuh kurusnya hanya terbungkus kaus tipis serta celana sebatas lutut. ‘Menghangatkan diri’ agaknya tidak masuk dalam daftar prioritasnya. Kelelahan tergurat jelas di paras pemuda itu, membuat ia tampak beberapa warsa lebih tua dari usia yang semestinya. Kedua manik legamnya menyorot hampa. Tak ia acuhkan tetesan fluida yang terus tumpah dari langit dan menjadikannya kuyup.

Seandainya saja, batinnya berujar, air hujan juga bisa membasuh pilu. Ia lantas menyunggingkan senyum asimetris, menertawakan diri sendiri yang mendadak jadi sentimental.

Hawa beku yang kian menyembilu tak menghambat gerak tungkainya. Sepasang penopang tubuh itu memang mengayun dengan sedikit terseok, tapi mereka tahu pasti hendak ke mana.

//

Tatapan si pemuda terhunus ke Sungai Banjir Kanal Timur di bawahnya. Buku-buku jarinya dijalari rona putih karena ia terlampau erat mencengkeram pagar besi jembatan. Batangan raksasa itu sewajarnya terasa dingin, tapi nyatanya tidak. Barangkali sarafnya sudah semuanya mati. Bukan hal yang mengherankan, karena ia memang sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi entah sedari kapan.

Ia tidak bisa merasakan apa-apa, kecuali ngilu di dalam dadanya. Di hatinya.

Benak pemuda itu sejemang berkelana, mereka-reka apa yang akan terjadi jika ia membiarkan tubuhnya jatuh menghantam air sungai. Selepas itu pasti raganya akan langsung beku, sehingga ia tak perlu lagi memelihara lara hati. Tak akan jadi masalah bagi keluarganya yang miskin dan anak-anak bermulut tajam di kampusnya, bukan begitu?

Pandangannya mengembara untuk kali terakhir. Segelintir manusia lalu-lalang, tapi tak seorangpun tampak berniat mencegahnya melompat. Hah, rupanya kata “peduli” sudah dihapus dari kamus hidup orang Jawa, cibirnya sarkastik. Tapi memangnya apa yang ia harapkan? Keluarganya saja tidak menaruh cukup kepedulian, apalagi orang asing.

//

Pendar surya yang tak kunjung menyapa menjadikan Semarang begitu kelam siang ini. Namun sepertinya, tak butuh penerangan berlebih untuk mengetahui apa yang baru saja terjadi. Bunyi khas sesosok tubuh beradu dengan permukaan air sudah menjelaskan semuanya, kendati beberapa jenak setelahnya lesap oleh gemuruh hujan.

.fin

//


notas:

  • thankies raniii udah bantu review ❤
  • cuma pengen nulis, maaf 😦
Advertisements

6 Comments

  1. Halo Kak Nadya! Aku Feni dari garis 98. Aku lagi jelajahin blognya kakak dan nemu cerita ini. Astaga, tulisanmu cantik. Klasiknya dapet banget kak, apalagi sambil denger lagunya, duh makin kebawa susana.
    Aku izin buat jelajahin blog kamu ya, Kak.
    Salam kenal Kak Nadya^^

    Like

    Reply

    1. omggg halo feni!!! udah lumayan lama ga ada yang blogwalking ke sini, jadi it’s kinda surprising (yet pleasing) for me to see one right now 😄 welcome welcomeee, let me give you a huuugg ❤

      lagunya emang gloomy banget sih, aku aja langsung ke-trigger nulis yang beginian pas pertama kali denger hahaha. syukurlah kalo feni bilang ini cantik, seneng banget lho akunya. betah-betah di sini yaaa feennn hehe.

      salam kenal juga feniii, thank you sooo much much muchhh ❤

      Like

      Reply

  2. halooo, kak nadya! hehe maaf karena kakak udah sering komen dan muncul, baik di blog aku atau di ws tapi aku baru sempet visit back sekarang yaaa.

    daaan, setuju sama sher, ini baguus! ❤ aku suka banget sama penggambarannya kakak, apalagi setting-nya di semarang dengan tulisan yang klasik dan rapi juga. enak dinikmatin dari awal sampai akhir koook. dan aku kaget dong pas dia tiba-tiba bunuh diri, tapi ga ada yang peduli itu huhu kok segitunya ya ada orang mau lompat masih dibiarin. gimana sih ini masyarakat 😦

    nice, kak nadyaaa! semangat terus yaaa! ❤

    Like

    Reply

    1. aaaa evinnn no need to say sorry huhu aku seneeeng banget dapet notif dari kamu, selamat dataaang ❤ aku visit dan komen di tempatmu karena emang suka sama tulisan kamu koookk bukan minta di-visit back atau apa hehehe jadi santai aja kalo masalah visit back mah :3

      sebenernya ini tulisan kilat vin, idenya spontan dateng gitu pas aku lagi bikin tugas. ganggu banget kalo ga dikeluarin, jadi aku tulis cepet aja hahaha makanya aku ngerasa masih banyak banget yang kurang. seneng deh kalo evin sukaaa hehe.

      makasih sekaliiii evin ❤

      Like

      Reply

  3. Akhir-akhir ini aku nyari cerita dengan komposisi latar Indonesia, ditulis rapi dan cantik, plus gloomy/sad gitu. Terus aku menemukan ini, dan berterimakasihlah aku sama kakak karena ini lebih bagus dari yang berusaha aku cari 👍👍

    Keep making something beautiful kak! 🙂

    Like

    Reply

    1. ah noooo harusnya aku yang makasih 😦 kalo cuma gloomy/sad yang begini sih pasti sher lebih jago dong huhuhu serius deh sher, your words are true magic.

      thank youuu sher udah ke sini ❤

      Like

      Reply

Let's talk, shall we?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s