Sepucuk Ketulusan

Featured image © Anna Remarchuk

Sepucuk Ketulusan © nadseu

.

Teruntuk kamu yang terpencar 11.094 kilometer jauhnya,

Well, aku benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana. Aku bahkan tidak tahu kamu mengenalku atau tidak kendati kita bersekolah di SMP dan SMA yang sama. Tidak heran sih, aku memang bukan gadis yang pandai bergaul. Masuk ke lingkungan pertemananmu jelas hanya angan kosong buatku. Kamu, si aktif pengurus OSIS sekaligus pemain andalan tim basket sekolah, mana mungkin menaruh perhatian lebih terhadapku?

Tenang, jelas bukan salahmu kalau kita tidak saling kenal seperti ini. Aku tahu kamu bukan tipe anak populer yang senang membeda-bedakan teman. Adalah kehendakku untuk mempertahankan jarak denganmu. Aku terlalu malu, bahkan untuk sekedar mempertemukan manik jelagaku dengan milikmu yang sewarna kusen. Selain itu, aku juga tidak ingin organ pemompa darahku yang malang ini bekerja terlampau keras. Debaran yang timbul saat netraku membingkai sosokmu itu amat tidak sehat, kau tahu? Jadi, kupikir akan lebih aman kalau kita tidak harus bertegur-sapa. Toh bagiku, mengamatimu mendribel bola basket dari jendela perpustakaan dalam bungkam sudah lebih dari cukup.

Aku masih ingat bagaimana batinku sedikit bersorak kala terbetik kabar bahwa kamu berpacaran dengan teman sekelasmu yang berkerudung itu, walau banyak yang menyayangkannya lantaran ia bukan termasuk jajaran cewek tenar di sekolah. Alih-alih berhenti mengagumimu, kata pujian justru mengalir semakin deras dari katup bibirku karena ternyata punya pacar populer tidak termasuk dalam prioritasmu. Pola pikir yang bagus, Kawan. Lagi pula ia bukan gadis yang buruk rupa, malah menurutku wajahnya manis dan tidak membosankan. Yang terpenting adalah: kalian masih bersama sampai saat ini. Tanda bahwa ia mampu membahagiakanmu, dan itu membuatku tenang. Semoga kalian berjodoh, ya! 🙂

Perlu kamu tahu bahwa aku selalu berharap semua pengandaianmu dalam hidup bisa terjelma. Betapa perasaan gembira menyusup di nuraniku saat kudengar kamu akan bertolak ke Jerman untuk melanjutkan kuliah. Itu juga salah satu mimpimu, ‘kan? Aku ingat kamu sudah mulai kursus bahasa Jerman sejak SMP. Kamu adalah persona yang amat visioner, membuatku menambahkan satu alasan lagi untuk mengagumimu. Tak mengapa meski sekarang aku hanya bisa menyaksikan aktivitasmu secara virtual.

Agaknya aku sungguh tidak tahu lagi harus menulis apa. Menutup semua ini, aku ingin melayangkan maaf. Ingat tidak, dulu sekali kita pernah bertukar konversasi? Hm, tidak tepat juga sih kalau aku bilang ‘bertukar’. Pasalnya, waktu itu hanya kamu yang meloloskan sepenggal kalimat dari bibir, sementara aku diam termangu karena tidak tahu artinya. Maaf untuk itu. Kurasa itu menjadi dialog pertama sekaligus terakhir kita. Rangkaian kata yang tertangkap telingaku sepertinya dalam bahasa Jerman atau entah apa, dan kalau aku tidak keliru bunyinya, “Ich liebe dich.” Aku sama sekali tidak memaksa, tapi mungkin kapan-kapan kamu bisa beritahu aku apa artinya.

Merilis aib sendiri tentang betapa sedikitnya koleksi kosakataku, sungguh penutup surat yang amat buruk. Bagaimana kalau kuperbaiki dengan sedikit doa agar kamu sukses dan bahagia?

Tertanda,

Gadis dengan perasaan yang tidak berubah meski sudah enam tahun bergulir

Advertisements

Published by

haebaragi

Every writer is a liar, so am I.

8 thoughts on “Sepucuk Ketulusan”

  1. Tiap baca tulisan kak nad semacam ini selalu ada yg berdesir (?) Hiks. How related, how true, how, how? :”) Entah kenapa bikin teringat sama *ehm* yang nun di sana. Yang entahlah harusnya aku gapeduli lagi. Yeah.

    Bagus ih kaaak :33 aku jadi keranjingan baca dan scroll down blog kakak nih hehe

    Like

    1. apa tuh wash yang berdesir? :p hahahaha ga apa-apa kok, aku juga kadang suka inget yang harusnya ga boleh diinget lagi. anyway aku ngerasa tulisanku belum sebagus itu waaash huhu tapi makasih banyak banget yaa, i could’t be more grateful to see you here ❤ ❤ ❤

      Liked by 1 person

  2. LAH KAMPRET UDAH DITEMBAK JUGA :””””””(((( APAAN CUMA GEGARA BAHASA……

    Oke maafkan aku mengcapslock but aku sukaaa aku kudu gimana. Bayanganku cowok ini tuh adem banget, tipikal anak yang ga sok narsis ato sok cool gitu. Dan ceweknya sungguh polos dirimu nak :””

    Like

    1. nis aku literally ga tau harus balesin komen kamu kayak gimana bikos bisa-bisanyaaaaa seorang niswa suka fiksi super ngasal begini heuuu :(((

      tapi teteup thankyou so muchosss niswa udah bacaaa ❤

      Like

Let's talk, shall we?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s