Afternoon Coffee

Afternoon Coffee

by nadseu

Starring BTS’ Min Yoongi and a girl. Probably you?

***

… buatku, kamu semanis gula …

***

Namanya Yoongi. Min Yoongi. Tengah menempuh studinya di Korea National University of Arts. Seorang komposer lagu. Penyuka warna putih. Penggila basket. Fashion item favoritnya adalah beanie. Gemar mengganti warna rambut (kuharap dia tidak mengubahnya lagi dalam waktu dekat, karena warnanya yang sekarang mengingatkanku pada es krim dengan rasa mint yang amat kusuka).

Kalau kamu mengira aku bisa mendeskripsikan Yoongi dengan begitu fasih karena kami memiliki relasi yang dekat, kamu salah besar. Taruhan, lelaki itu bahkan tidak menyadari presensiku barang sececah. Aku mengetahui setiap detil diri Yoongi karena aku senang memerhatikannya.

Suara ketukan halus yang timbul saat sneakers-nya beradu dengan lantai kayu kafe tempatku bekerja ini selalu bisa menyita atensiku secara penuh, bahkan sejak kali pertama Yoongi datang ke sini. Biasanya dia memasuki kafe dalam balutan baju basket lengkap dengan bola yang dibawanya dengan sebelah tangan, jas berlambang Korea National University of Arts, atau busana kasual yang kerap didominasi warna putih. Dan, oh, jangan lupakan beanie yang tidak pernah absen menyungkupi surainya.

Setelah mendapatkan minumannya, lelaki berkulit pucat itu akan memilih bangku yang menghadap ke luar kafe, duduk di sana berjam-jam lamanya menatap layar laptop yang menampilkan software pembuat lagu. Kemudian setelah selesai, dia akan keluar kafe begitu saja—atau sesekali singgah dulu ke dekat kasir untuk meninggalkan sejumlah tip.

Oh, oh, sepertinya ada sihir di sini, karena mataku menangkap presensi objek yang baru saja kulamunkan berjalan memasuki kafe.

“Selamat sore, mau pesan apa?” Aku menyambutnya di meja pemesanan seraya memamerkan senyum termanis yang kupunya. Yah, kendati aku bisa menebak dengan mudah minuman apa yang akan dipesannya—dia hampir selalu memesan Caramel Macchiato—aku tetap harus menanyainya dengan sopan sebagai prosedur wajib di kafe ini.

“Satu Caramel Macchiato ukuran sedang.” Bingo! Benar, ‘kan?

“Atas nama siapa?” Sekali lagi, bukan aku tidak tahu namanya, tapi ini bagian dari prosedur pelayanan kafe.

Baritonnya menyambut, “Yoongi.”

“Baiklah, totalnya 3000 Won.”

Tanganku terlulur untuk menerima sejumlah uang yang Yoongi angsurkan. Bisa kurasakan sesuatu seperti aliran listrik memberiku sengatan kecil kala tangan kami bergesekan, disusul oleh organ pemompa darahku yang mulai berdentam keras dengan ritme asal. Celaka!

“Pesananmu akan siap dalam lima menit. Silakan tunggu di sebelah sana.” Aku menunjukkan tempat di ujung bar di mana para barista meletakkan pesanan minuman yang sudah selesai dibuat.

Sejurus setelah Yoongi melafalkan “Thanks” pelan lagi tak acuh sembari melenggang pergi, aku bergegas membuatkan minumannya. Yah, tentu saja, setelah susah payah menormalkan degup jantungku kembali. Tanganku meraih spidol untuk menuliskan namanya di cup plastik berukuran sedang, kemudian sekon berikutnya gerakanku terhenti.

Nama asli-nya memang Yoongi, tapi tidak ada salahnya, ‘kan, kalau kububuhkan nama lain di gelas minumannya? Bukan, bukan nama lain seperti Pendek, Kampret, Dodolipret, atau sederet julukan bodoh lainnya yang lazim terdengar semasa sekolah dulu. Nama manis ini khusus kuberikan untuknya.

Setelah melalui detik-detik sulit penuh pertimbangan, akhirnya kuputuskan untuk merealisasikan ideku dengan harapan: 1) Yoongi tidak muntah pada tegukan pertama minumannya karena mendapatkan serangan gombal tercetak di gelas; 2) Sekalian saja dia tidak menyadarinya. Ya. Semoga saja demikian.

“Caramel Macchiato atas nama Yoongi.”

Aku berniat hengkang sejauh mungkin dari jarak pandang Yoongi selepas mengasurkan minuman pesanannya, tapi—

“Tunggu, ini bukan milikku.”

—suara rendahnya menghentikan gerakan tungkaiku yang baru beberapa langkah. Gawat!

Berpura-pura bodoh agaknya bisa sedikit menyelamatkan harga diriku, jadi aku menyahut, “Ya?”

“Ini bukan milikku,” Yoongi mengulang perkataannya. “Di sini tertulis,” dia berhenti sejemang demi memindai cup plastik di tangannya, “Suga.”

Aku menggaruk tengkukku yang sejujurnya tidak gatal sama sekali, sementara netraku mencari objek di dalam kafe yang cukup layak untuk dijatuhi pandang—apa pun, asal bukan sepasang manik gulita milik Yoongi. Ujung flat shoes-ku berikut ubin yang kupijak rasanya cukup menarik, jadi aku menunduk menatapnya.

“Yah, buatku, kamu semanis gula. Jadi sepertinya nama Suga cocok untukmu.” Rentetan kata yang mengalir dari bibirku sepertinya lebih cocok dikategorikan sebagai cicitan saking pelannya.

Melalui ujung mata, dapat kulihat bibir Yoongi mengukir sebentuk kurva. “Thanks,” gumamnya singkat. Mungkin kikuk, tapi tetap terlihat kasual.

Sepanjang sisa sore, Yoongi duduk di dekat bar menandaskan macchiato-nya—bukan di bangku favoritnya yang menghadap jendela. Laptop yang biasanya menjadi fokus Yoongi kali ini juga absen dari atas meja. Tampaknya dia tidak ingin berlama-lama menghabiskan waktu di sini karena sesaat sesudah gelasnya kosong, Yoongi beranjak ke depan kasir—kalau mau jujur, sebenarnya dia muncul tepat di depan hidungku—untuk meninggalkan sejumlah uang tip yang diselimuti kertas tisu. Kemudian pergi setelah mengulas senyum.

Ah, kurasa senyumnya menular. Atau yang membuatku terlihat idiot lantaran tersenyum terus hingga shift-ku selesai adalah tulisan Yoongi di kertas tisu tadi?

Aku suka nama Suga.

Tapi sepertinya aku lebih suka kamu.

Hope to see you again tomorrow?

-fin?

.

.

.

.

-Bonus scene-

Agaknya kejadian kertas-tisu-gombal-namun-manis kemarin menjadi viral di kalangan rekan-rekan kerjaku di kafe. Maka ketika sore ini Yoongi kembali, tak ayal suitan lagi kalimat-kalimat bernada menggoda membahana, membuatku ingin menjejalkan sekarung espresso ke mulut mereka satu per satu.

“Seperti biasa, Caramel Macchiato ukuran sedang,” Yoongi menuturkan pesanannya tanpa harus repot-repot kutanyai. Senyum terkulum di bibirnya kala menuntaskan kalimat, “Kali ini aku pesan atas nama Cinta, boleh?”

***

.

.

.


  1. INI APAAA :(((
  2. Jangan kaget kalo pernah baca yang mirip ini di BTSFFI because yes, I’m inspired from a fiction from that blog.
  3. Bayangin aja latarnya kayak di Starbucks.
  4. Selamat libur lebaran
Advertisements

15 Replies to “Afternoon Coffee”

      1. Aku lagi sempet2in blogwalking haha. Malah main ke blogmu. Maaf yaa jadi kayak tamu tak diundang hahaha. Bisa aja deh kamu bikin suga manis begini hohoho

        Like

  1. “Kali ini aku pesan atas nama Cinta.” AKU INGIN BERKATA KASAR BACANYA :”
    Min Yoongi please lah jangan gombal di tengah jam kerja kasian mbanya jadi bahan bully satu kafe wkwkwk… Eh tapi pas bagian mbanya kepingin ngasih nama panggilan aneh-aneh aku ngakak coba, Dodolipret yaelah ledekan ala anak SD sekali //kemudian nostalgia
    Keep writing ya, Kak Nadya 😀

    Like

      1. Halo halo masih ingatkah dengan diriku? hehe. Aku mau minta ijin repost cerita ini ke OA Suga Base (@vmk4501d) boleh??? I’ll take it with full credit dont worry ^^ kalau ngga boleh juga ngga apasih, ngga memaksa kok hehe. Ditunggu ijinnya 😀

        Like

  2. minsuga go to hellllllllllllll
    *ga
    ini apa? siapa aku? di mana aku? kenapa kamarku berubah interiornya penuh gula kapuk
    gapapa kok kalo sejauh ini nulisnya fluff, asli kalo ini beneran dilakuin ke suga aku ga bakal bisa nebak reaksinya hahha tapi yg ini sweet! gombal mas syub, deuh
    oh ya, kyknya tadi ada typo like degub, dan ‘aku’ setelah tanda petik yg ga dikapitalkan. ga mengganggu sih
    keep writing!

    Like

  3. KYAK MINSYU MWOHASEYOOOOOOOOOO……………….. WUANJIR KAK ENDINGNYA KOK JADI GOMBAL GITU XD

    Okelah aku mau tarik nafas dulu..
    Kenapa yaa tiap baca fic kakak bawannya aku senyum mulu, mungkin karena emang specialitynya kakak di genre begini? Ya mungkin saja karena ficnya kakak sukses bikin aku ribut sendiri sambil baca (plak)
    Itu atas nama cinta itu…..aku kenapa bacanya sambil nyanyi ya….?!(halah)(plak)(maklum aku orangnya rada jadul)

    Wihihi kak Nadya pokoknya jjang! Keep writing~ btw ini pakek bgmnya BTS yang Coffee juga bagus kak XD

    Like

    1. Hai hai! 😀
      Iya nih ga tau kenapa otakku cuma bisa jalan lancar kalo nulis fluff2 kacangan begini :’) padahal sebenernya aku pengen keluar dari comfort zoneku nyobain genre lain tapi belom mampu :’)
      Coffee-nya bts kan hasil remake jiii dari lagu cafe latte punyanya urban zakapa, terus ini dicover sama geeks. Naaahh aku lebih suka coverannya geeks ini heheheu.
      Makasih banyak ji reviewnya! 😉

      Liked by 1 person

Let's talk, shall we?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s